Binar-Binar Daya Aksi-Kreasi Komunitas Seni

Binar-Binar Daya Aksi-Kreasi Komunitas Seni

Binar-Binar Daya Aksi-Kreasi Komunitas Seni

Pandemi Covid-19 berdampak pada sebagian aspek aktivitas masyarakat. Tidak terkecuali bagi seniman seni rupa atau visual. Sejumlah pameran visual yang berlangsung pada ruang-ruang galeri, tak sedikit harus tertunda, bahkan dibatalkan.

Data Koalisi Seni Indonesia yang dihimpun sejak April 2020 menyebutkan, setidaknya 234 acara seni tertunda akibat Covid-19. Di antaranya, sebanyak 33 event pameran dan museum seni rupa.

Meskipun begitu, semangat berkesenian mereka tak lantas surut. Sebagian waktu mereka pun dihabiskan dengan beragam kegiatan untuk menjaga asap dapur keluarga.

Sejak 19 September lalu, sepuluh orang perupa yang tergabung dalam kolektif Kilau Art Studio Jakarta mengerjakan karya kolaboratif. Mereka antara lain meliputi desainer, pengajar seni, arsitek, dan seniman kriya. Bersama 30-an pengrajin dari dua permukiman di Jambi, mereka merancang karya instalasi bertajuk “Instalasi Harmoni(S)” yang menempati sebagian ruang terbuka dalam kompleks Candi Muaro Jambi.

Saepul Bahri selaku Ketua Kilau Art Studio menjelaskan, gagasan dasar karya gigantik yang mereka ciptakan berukuran tinggi 10 meter, panjang 13 meter, dan lebar 4 meter. Instalasi ini memberdayakan potensi masyarakat Jambi pada sektor kerajinan olahan resam. Resam (dicrapnoteris linearis, sp.) merupakan sejenis tanaman paku yang umumnya menjadi gulma atau tanaman pengganggu bagi pepohonan karet dan sawit.

Resam telah menjadi salah satu sumber mata pencaharian warga, yaitu dijadikan karya kerajinan anyaman, antara lain topi, tas, gelang, dan asesoris lainnya. Lebih dari itu, Saepul, dkk. bermaksud mengembangkan kontribusi resam menjadi karya yang membangkitkan inspirasi dan manfaat lebih sebagai daya tarik wisata Jambi.

Saepul lalu menghimpun sepuluh seniman perupa dari Jakarta dan mengajukan gagasan itu sebagai proposal dalam program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Program FBK yang diselenggarakan Ditjen Kebudayaan Kemendikbud sejak Maret lalu itu merupakan sebuah kesempatan bagi perupa untuk tetap produktif dan aktif berkesenian.
Fasilitasi itu terbagi dalam dua tahap, yaitu periode pendaftaran 9–23 Maret 2020 dan tahap dua pada 13–30 Juli 2020. Sementara bagi kelompok seniman yang proposalnya disetujui, pelaksanaan produksi karya dijadwalkan berjalan hingga November 2020.

Data Ditjen Kebudayaan Kemendikbud menyebutkan, dari 1.200 proposal yang mendaftar, tersaring 80-an kelompok yang terpilih untuk difasilitasi. Sesuai ketentuan dalam petunjuk teknis FBK, nominal fasilitas pendanaan untuk satu produksi karya kolaborasi maksimal senilai Rp300 juta.

Hambatan berpameran di galeri

Kesulitan merancang pameran seni rupa secara offline atau luring di masa pandemi ditegaskan oleh Saepul. Maka dari itu, program FBK dari Ditjen Kebudayaan Kemendikbud memberi lecutan bagi mereka untuk tetap produktif sekaligus menyiasati kesulitan itu.

Saepul berpendapat peluang menggelar pameran luring belakangan ini menjadi semacam “kemewahan”. Akibatnya, kata dia, seniman merasa sangat terpukul secara psikologis. 

“Kami semua hampir tak bisa berkomunikasi untuk merencanakan pameran. Pameran selama pandemi ini sangat tidak mungkin, kalaupun ada, itu rezeki,” ucapnya.

Sementara itu, Sugiharto (40), salah satu seniman dari Kilau Art Studio yang ikut berkolaborasi dalam penciptaan karya Instalasi Harmoni(S) menuturkan, keterlibatannya bersama pengrajin resam di Jambi adalah pengalaman tak ternilai.

Bagi lulusan Jurusan Seni Murni dari Institut Kesenian Jakarta itu, kondisi pandemi banyak menyulitkan bagi perupa sepertinya untuk menggelar pameran-pameran karya lukis secara langsung atau tatap-muka. Pameran terakhir yang turut diikuti Sugiharto adalah Pameran Daring Manifesto VII “Pandemi” yang diadakan Galeri Nasional Indonesia, Agustus lalu.

Menurut dia, beralihnya pameran seni rupa belakangan melalui medium internet tidak sepenuhnya dapat menggantikan kepuasan dalam pameran secara luring.

“Umumnya kalau pameran online jadi kurang greget. Karena karya kita hanya dilihat sebentar oleh audiens. Audiens juga tak terlibat langsung. Banyak momen-momen penting yang terbuang (dalam pameran daring),” kata Sugiharto yang tinggal di Kampung Duri, Gambir, Jakarta Pusat.

Berkat keterlibatannya dalam produksi karya kolaborasi di Jambi itu, Sugiharto mengakui dapat memperoleh tambahan pemasukan. Baginya, keuntungan ekonomi yang didapat dari produksi karya cukup untuk menghidupi kebutuhan keluarganya selama sebulan dan untuk membeli peralatan lukis.

Selain memperoleh itu, dia bersyukur mendapat kesempatan bertukar pengalaman budaya yang berbeda. Dia juga menilai dampak dari proses dan hasil karya yang dibikin dapat berdampak positif bagi kemajuan warga di sekitar candi Muaro Jambi.

Menjaja potensi kreatif

Sugiharto menuturkan, sebelum pandemi dia dapat memperoleh pemasukan utama dari kursus melukis privat secara tatap muka yang dapat berlangsung setiap hari. Pesertanya beragam, dari anak-anak berusia 6 tahun, remaja, juga pekerja kantoran. 

Namun, akibat wabah Covid-19, pada Maret hingga Juni lalu kursus melukis ditiadakan. Dia pun baru bisa membuka kursus melukis secara daring sejak Juli lalu. Setiap satu kali dalam seminggu, dia hanya dapat mendapat pemasukan kurang-lebih Rp200 ribu.

Sugiharto juga menjalankan usaha jasa pembuatan cenderamata dari resin. Namun, beberapa bulan terakhir, kata dia, jumlah pesanan turun drastis. Cenderamata itu, misalnya, berupa gantungan kunci dan pelengkap asesoris khas kota atau daerah tertentu.

Sementara bagi Saepul, tren penggunaan masker penutup mulut dia manfaatkan dengan menjual jasa melukis penghias masker. Salah satu merek yang memasarkan produk masker yang telah dilukisnya adalah Masker Kain Masa Kini (maskini.id). Untuk satu lembar masker rata-rata lukisannya dihargai Rp100 ribu–200 ribu. Dari jasa melukis ini, Saepul rata-rata memperoleh untung sebesar Rp 10juta dalam sebulan.

“Hal yang sederhana kayak masker, tetapi dikerjakan dengan senang hati, sama saja dengan berkarya yang besar,” ucapnya.

Selain itu, Saepul juga mencari kesempatan untuk mengerjakan projek seni seperti mural yang melibatkan sejumlah pekerja seni, serta pengemasan bingkisan kado atau hadiah. Kondisi sulit pandemi, baginya, malah mendorong untuk terus bertahan hidup.

“Kalau di sana-sini enggak bisa bergerak, kita harus bangkit. Apapun, kalau dikerjakan dengan serius dan senang hati, akan menghasilkan nikmat.”

Gerakan kepedulian sosial

Sementara itu, Komunitas Pasirputih di kota Pemenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, mendayagunakan jaringan antarkomunitas setempat untuk membuat gerakan positif dan relevan dengan kondisi aktual. 

Komunitas Pasirputih yang didirikan pada 29 Desember 2009 ini bergerak di bidang literasi dan pengembangan seni media audiovisual. Beberapa di antaranya ialah aktivitas melukis di dinding atau mural, pertunjukan seni kontemporer, juga produksi video dan film pendek.

Muhammad Sibawaihi selaku Direktur Program Pasirputih menjelaskan, situasi pandemi Covid-19 mendorong aktivitas kegiatan mereka sedikit beralih, misalnya membuat dan membagikan masker dan penyanitasi tangan kepada warga sekitar.

“Kami membuka bioskop kecil. Kami siapkan juga tempat cuci tangannya, dengan pengaturan tempat duduk yang masih berjarak,” kata Sibawaihi, akrab disapa Siba, ketika dihubungi akhir September lalu.

Di samping itu, pada 19 September lalu, Komunitas Pasirputih menginisiasi acara bertajuk “Malam 100 Puisi”. Siba mengungkapkan, kegiatan ini didasari keprihatinan mereka bersama sejumlah komunitas seni dan sastra setempat terhadap situasi jelang pilkada Desember 2020 mendatang.

Pasalnya, kata Sibawaihi, persaingan dua pasangan calon bupati-wakil bupati Lombok Barat tahun ini telah menimbulkan friksi yang rentan memantik konflik di masyarakat. Mereka ialah pasangan H. Djohan Sjamsu dan Dani berhadapan dengan H. Najmul Akhyar dan Suardi.

Persaingan dua kubu tersebut sesungguhnya tak terlepas dari “dendam lama” antara Djohan Sjamsu dan Najmul Akhyar. Sibawaihi mengungkapkan, pada periode kepemimpinan di Kabupaten Lombok Utara pada 2010-2015 lalu, Djohan dan Najmul bersanding sebagai Bupati dan wakil bupati pertama Lombok Utara.

Namun, selepas periode itu, mereka pecah kongsi hingga kini. Kondisi pasang-surut itu berpengaruh pada pertentangan cukup sengit antarkelompok masyarakat pendukung kedua calon itu.

“Ini jadi seperti dendam lama yang bersemi kembali. Banyak juga teman-teman (warga) di kedua belah pihak, di mana masyarakat menjadi terbelah,” kata Sibawaihi.

Sejumlah bentuk ujaran kebencian antarkelompok pendukung kedua pasangan calon pun merebak di media sosial. Maka dari itu, Sibawaihi dan tim Pasirputih menggagas kegiatan Malam 100 Puisi untuk menyebarkan semangat kerukunan dan pesan perdamaian di masyarakat. Sejumlah komunitas lokal Lombok turut dilibatkan dalam acara tersebut, di antaranya Komunitas Kearifan Lokal Tebango (K2LT) dan Klub Baca Perempuan.

“Kedua komunitas ini berandil mengampanyekan pilkada damai, juga pilkada yang tidak melibatkan anak-anak dalam kegiatan politik,” ucap Sibawaihi.

Membangun literasi pemilu damai

Pelaksanaan acara Malam 100 Puisi diungkapkan Sibawaihi berhasil dan menarik partisipasi dari banyak kalangan warga umum dan pemerhati seni. Tak kurang dari seratusan warga memadati halaman terbuka di Klub Baca Perempuan, Pemenang, Lombok Barat. Sebagian dari mereka yang spontan membikin puisi, meramaikan 20 orang pembaca puisi yang telah ditunjuk oleh panitia acara.

Sibawaihi mengatakan, tim kecil yang digalang Komunitas Pasirputih menyatukan sejumlah pekerja seni dari bermacam segi, baik sastra, seni rupa, dan lainnya. Mereka yang mewakili beragam kelompok seni ini secara ikhlas saling meluangkan dana pribadi dan waktu untuk mempersiapkan fasilitas penyokong acara.

Selebihnya, inisiatif itu disambut antusias juga oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Lombok Utara. Seperti diungkapkan Sibawaihi, bersama Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Sadaqoh Nahdlatul Ulama setempat, Bawaslu Lombok Utara memfasilitasi dengan penyediaan sarana-prasarana dan petugas keamanan sesuai aturan protokol kesehatan. Beberapa di antaranya, ialah selama acara setiap orang harus melalui tahapan pengecekan suhu badan. Bawaslu turut menyediakan tempat air untuk mencuci tangan.

Selain mendapat respons cukup tinggi di kalangan masyarakat yang hadir, Malam 100 Puisi tersebut dinilai telah menyebarkan nilai positif pada masyarakat sekitar, khususnya Lombok Utara, dan warga NTB lainnya. Salah satu poin lain yang disepakati warga beserta perwakilan NU dan Muhammadiyah ialah rencana pengunduran waktu pelaksanaan pilkada Lombok Utara.

Hal itu didasari pertimbangan situasi pandemi Covid-19 yang masih berpotensi tinggi penularannya di masyarakat. Sekalipun kecenderungan jumlah kasus positif Covid-19 di Lombok Utara menurun mulai Agustus lalu, pemungutan suara pilkada yang menimbulkan kerumunan dinilai riskan memunculkan kasus baru.

“Selain dari Baswaslu, kami warga jadi terdorong untuk bareng-bareng mengawasi pemilu ini,” ucap Sibawaihi.[] 

Leave a Reply