Menilik Kondisi Pekerja di Tengah Pandemi Masa Lalu

Menilik Kondisi Pekerja di Tengah Pandemi Masa Lalu

Pandemi Covid-19 berdampak besar pada kondisi kerja di seluruh dunia. Organisasi Perburuhan Dunia, ILO, menyatakan hilangnya jam kerja secara besar-besaran akibat pandemi Covid-19 menyebabkan penurunan pendapatan yang sangat signifikan di seluruh dunia. Sepanjang kuartal kedua 2020, jam kerja turun sebanyak 17% dibandingkan akhir tahun 2019. Jumlah ini setara dengan 500 juta pekerjaan penuh waktu. Sementara di Indonesia, diperkirakan tiga juta lebih pekerja mengalami pemutusan hubungan kerja. Ada pula yang mengalami pemotongan upah hingga gaji yang tidak dibayarkan. 

Mereka yang tetap bekerja harus selalu siaga sebab risiko tinggi penularan virus di tempat kerja. Di JawaTimur, kluster perkantoran menjadi penyumbang terbesar dalam penyebaran virus. Dikabarkan CNBC Indonesia, di Jakarta kluster perkantoran berada di posisi ketiga dengan kantor Kementerian Kesehatan menjadi tempat persebaran virus tertinggi. Beberapa pabrik juga harus tutup karna pekerjanya positif terjangkit virus corona, seperti LG, Hitachi, dan Unilever.

Hal serupa juga pernah terjadi kala pandemi Flu melanda dunia pada 1918. Para pekerja menghadapi tantangan yang hampir sama. Catharine Arnold dalam bukunya Pandemic 1918 mengisahkan di Newcastle, Inggris para buruh merasa ngeri untuk pergi kerja karena sebagian besar rekan kerjanya terjangkit flu. Sementara di Durham para pekerja tambang tercatat merasakan infeksi saluran nafas dan mengakibatkan 70 persen pekerjanya diliburkan. Di Birmingham, banyaknya orang yang terjangkit flu membuat pabrik amunisi dan bengkel besi kekurangan pekerja. Di Lancashire, pabrik tekstil yang mempekerjakan 400 orang harus mengurangi jumlah pekerjanya menjadi 100 orang, yang berarti tiga per empat dari pekerjanya dipecat akibat pandemi.

Di Twente, Belanda, kasus flu juga banyak ditemukan, khususnya di kawasan pabrik dan permukiman pekerja tekstil. Sementara di Losser, daerah yang berbatasan dengan Jerman, ditemukan 25 orang yang terjangkit flu per Juni 1918.

Dikabarkan Belgish Dagblad 14 Juli 1918 banyaknya warga Twente yang bekerja di Jerman meningkatkan potensi penularan flu. Untuk mencegah penyebaran penyakit, mobilisasi dibatasi. Orang-orang Belanda yang bekerja di Jerman dideportasi. Sayangnya, beberapa pekerja yang pulang kampung meninggal dalam perjalanan.

Sementara di Amsterdam pandemi flu telah memakan banyak korban jiwa. Para pekerja menjadi kewalahan lantaran banyak rekannya tertular flu. Di perusahaan trem, pabrik, dan kantor besar seperti Bank Asuransi Nasional (Rijksverzekeringsbank) dan Bank Tabungan Pos Nasional (Rijkspostspaarbank) beberapa orang tidak masuk kerja karena terjangkit flu. Setelah sembuh mereka akan kembali lagi ke kantor, namun dalam empat atau lima hari akan ada orang lain yang sakit dan tidak hadir.

Kesulitan juga dialami oleh pekerja pos dan telegram. Karena makin banyak orang terjangkit, mobilisasi dibatasi, akibatnya terjadi keterlambatan pengiriman. Surat kabar tidak diterima tepat waktu atau kadang sama sekali tidak datang karena loper korannya sakit. Beberapa kedai kopi harus tutup dan memberhentikan para pelayannya karena tak ada pengunjung.

De Sumatra Post 16 November 1918 menulis para pekerja yang tetap ke kantor memiliki potensi tinggi untuk terjangkit flu. Kerumunan di tempat kerja dan transportasi publik membuat penyakit mudah menular. Para pekerja semacam menunggu giliran untuk terjangkit flu. 

Orang yang terjangkit flu Spanyol akan mengalami demam selama 24-28 jam, otot kaku, dan mual. Penderita biasanya sembuh dalam 6-7 hari namun bisa juga kondisi pasien memburuk hingga menyebabkan kematian. Mereka yang punya penyakit bawaan berpotensi lebih tinggi untuk meninggal.

Di negeri jajahan, flu Spanyol menyebar luas dan banyak memakan korban. Surat kabar De Locomotief 14 November 1918 mengabarkan ada 30 hingga 35 pasien pribumi yang tercatat meninggal akibat flu Spanyol di rumah sakit dalam sehari. Banyaknya pasien yang berjatuhan membuat para dokter Djawa kewalahan.

Di tengah sulitnya hidup akibat penjajahan, orang-orang harus kembali bekerja begitu kondisi tubuh mereka kembali sehat. Di pesisir pantai selatan terjadi kelaparan dan kesengsaraan yang dialami penduduk pribumi. Banyak yang sakit, kurang makan, hingga akhirnya meninggal.

Sebagian besar penduduk pesisir bekerja di penangkapan ikan. Ikan-ikan yang berhasil ditangkap oleh suami, kemudian dijual oleh istri-istrinya ke pasar. Namun ketika wabah mendera tidak banyak kapal yang melaut lantaran awaknya sakit. “Jika laki-laki tidak bisa menjalankan usahanya, perempuan tidak bisa membawa ikan ke pasar, dan keluarganya kelaparan. Jadi, ada ratusan keluarga yang membutuhkan bantuan saat ini,” tulis De Locomotief.

Di pelabuhan, seperti dikisahkan Priyanto dkk. dalam Yang Terlupakan Pandemi Influenza 1918, para kuli kapal dilarang turun. Para kuli pelabuhan dipekerjakan untuk membantu mengangkut barang-barang ke gudang pelabuhan. Bila ada penumpang kapal atau pekerja kapal yang turun dan hendak singgah, mereka harus dikarantina di sekitar pelabuhan. Namun, tempat karantina untuk para kuli amat tak layak karena hanya berupa gudang dengan atap yang bocor.

Akibat pandemi flu, kegiatan kantor di negeri jajahan juga harus dibatasi. Para pekerja di kantor pos, telepon, dan telegram juga hanya masuk sebagian. Layanan pos, telepon, dan telegram tetap berjalan meski tidak melayani servis kilat karena minimnya pekerja yang masuk.

Selain kantor besar, kegiatan perkebunan juga dibatasi. Pemilik perkebunan kemudian memberhentikan para buruh kebun kopi dan karet di Malang, Jawa Timur. Akibatnya, para buruh tani di Kecamatan Donomoelio, Malang menderita kelaparan karena diberhentikan dari pekerjaannya sementara bantuan dari pemerintah tidak ada. Mereka meminta agar perkebunan kembali dibuka sehingga mereka bisa kembali mencari nafkah.

Asisten Residen Malang kemudian memanggil para pengurus perkebunan untuk membuat pengumuman bahwa pekerjaan di ladang akan kembali dibuka ketika musim penghujan.

Kondisi para buruh tani di Malang yang terhimpit pandemi dan penjajahan tentu berbeda dengan para pekerja di Pennsylvania Bell Telephone Company, Amerika Serikat yang mampu meliburkan diri. Catherine menulis, sebanyak 850 pekerja memutuskan untuk tidak masuk kantor hingga perusahaan tersebut harus memasang iklan di koran. Hanya telepon yang benar-benar penting terkait wabah dan perang yang akan disambungkan, lainnya tidak. Operator telepon boleh menolak menyambungkan panggilan yang dianggap tidak penting.

Kondisi kerja yang mengancam kesehatan di tengah pandemi kemudian berakhir ketika infeksi flu Spanyol menurun pada 1921. Meski demikian penularan flu dalam skala kecil masih ditemukan hingga 1957. Pandemi ini menjadi peristiwa yang terlupakan dalam sejarah karena kacaunya kondisi dunia akibat Perang Dunia I. []

Ditulis oleh Nur Janti, Anggota SINDIKASI

Leave a Reply