Ruwetnya Bekerja di Industri Film
image by M. Thezar Prasetya Antari

Ruwetnya Bekerja di Industri Film

Ruwetnya Bekerja di industri film
image by M. Thezar Prasetya Antari

Menjadi pekerja di ekosistem industri film tidaklah mudah. Hal ini diamini oleh Tobing dan Adam. Mereka harus membagi beban antara dunia kerja dan perkuliahan yang sedang ditempuh, dan kerap kali hal tersebut membuat mereka keteteran dalam mengatur waktu. 

Tak hanya itu, risiko dan beban kerja yang dihadapi sangat berat. Meski begitu, Adam menyebut hal tersebut bukan masalah karena sudah kadung nyaman bekerja di dalamnya.

Serupa dengan Adam, saat pertama kali berkecimpung di industri film, Tobing langsung merasakan pengalaman yang tak akan dilupakan. Selepas lulus sekolah, ia bekerja di bagian penyutradaraan, yang saat itu rumah produksi sedang menggarap FTV (film televisi).

“Pas kerja di sana, kok ngerasa tekanannya gila, karena (produksi) kejar tayang. Jadi (industri film) gak mandang cowok atau cewek. Gue sampai tidur di mobil, di set, bahkan gak tidur buat nyiapin banyak hal,” ujar Tobing saat saya temui pada Kamis, 17 September 2020.

Alasan Tobing dan Adam mengambil pekerjaan di sela-sela perkuliahan adalah meningkatkan pengalaman, kapasitas diri, dan pundi-pundi rupiah sebagai hasil jerih payah yang sudah dikerjakan. Tanpa melakukan hal itu, mustahil rasanya mengadaptasi ilmu serta pengetahuan yang didapat di kampus. Apalagi kampus belum bisa mengakomodir talenta yang mereka miliki. Lalu dari mana mereka mendapatkan pekerjaan tersebut? 

Adam mulai mendapatkan pekerjaan dari event-event musik menjadi videografer dan pembuatan video clip. Lalu, saat menginjak bangku kuliah, ia mendapatkan pekerjaan membuat video iklan sebuah brand dan panggilan pekerjaan dari rumah produksi asal Jakarta, yang secara kebetulan berproduksi di Bandung. Sedangkan Tobing, mulanya ditawari oleh sang kakak untuk membantu proses produksi FTV di bagian penyutradaraan. Semenjak ia kuliah barulah datang panggilan pekerjaan dari rumah produksi di Bandung dan Jakarta.

Baik Tobing maupun Adam mendapatkan panggilan pekerjaan dari berbagai relasi yang mereka jalin sendiri. Menimbang rumah produksi dan klien berproduksi berdasarkan proyek, biaya, dan waktu tertentu. Artinya, mereka selalu bekerja dengan rumah produksi dan klien yang berbeda-beda dalam waktu satu tahun.

Pertimbangan mereka belum mengambil in house – setiap bulan mendapat upah meski tidak syuting – adalah agar bisa mengimbangi waktu kuliah dan pekerjaan yang dilakoni. Menurut Adam, besaran upah bergantung pada proyek dan status kerja yang disandang oleh seorang pekerja di industri film.

“Jadi, kalau kaya kita nih gak bisa disamain sama pekerja kantoran. Karena kerjanya berbasis project. Soal upah beda-beda, kaya iklan aja yang freelance dapat Rp 1.000.000 ke atas, Kalau bikin web series yang pengerjaannya makan waktu sebulan (2 minggu persiapan produksi – 2 minggu proses syuting) bisa Rp 10.000.000,” terang Adam.   

Saat ditanya soal besaran upah yang diterima setiap proyek, Tobing urung menyebutkan nominal angka yang masuk ke rekeningnya. “Ah, janganlah bang,” ucap perempuan kelahiran Jakarta itu sambil tersenyum.

Dalam industri film sendiri biasanya terbagi dua tim: tim produksi dan tim kreatif. Tobing dan Adam menempati pos kerja yang berbeda, bahkan kadang tak menentu. Tobing pernah menjadi bagian penyutradaraan, logistik, dan manajer produksi. Saat menjadi manajer produksi ia harus memastikan proses produksi film berjalan lancar, membuat rancangan anggaran biaya (RAB), menentukan lokasi syuting, dan penanggung jawab produksi.

Sementara itu Adam berada di tim kreatif sebagai asisten sutradara, tugasnya beragam mulai dari menentukan jadwal syuting, mengatur dan memastikan adegan dapat berjalan lancar, membantu aktor supaya dapat mengeluarkan akting terbaiknya. Intinya, menyiapkan berbagai kebutuhan sutradara.

“Pokoknya kalau syuting tuh gak boleh overtime, kalau enggak nanti ngaruh ke biaya produksi. Kalau ada hambatan di lapangan, gue pasti semprot asisten sutradara. Kelihatannya aja adem-ayem manajer produksi itu,“ujar  Tobing. 

Penghasilan Saya Babak Belur

Maret 2020, sejak pandemi Covid-19 merebak di Indonesia, perputaran uang  industri film turut terdampak. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) otomatis menghentikan proses syuting yang sering dilakukan di luar ruangan dan melibatkan banyak orang berkerumun. Hasilnya, banyak proyek yang sudah direncanakan dari jauh hari mesti dibatalkan. 

Tobing dan Adam pun ikut terdampak pembatalan proyek syuting film, begitu juga uang jutaan rupiah yang ikut raib bersama dengan krisis Covid-19. Pada hari kelima menuju proses syuting Adam dipulangkan oleh rumah produksi yang mengontraknya untuk menghindari penularan virus Covid-19. Ia mengatakan sudah dijanjikan dua kali – pada Agustus dan September – akan melakukan syuting lagi. Namun hingga saat ini belum ada pemanggilan kembali. 

“Dengan adanya kontrak kerja juga sebenarnya belum bisa memastikan kalau ada pembatalan proyek kaya gini,” ucap Adam. 

Tak jauh berbeda dengan Adam, Tobing mengalami pembatalan proyek pembuatan FTV yang berjumlah 100 episode yang bakal tayang di salah satu stasiun tv lokal. Mestinya ia akan mendapat panggilan kerja untuk menjadi manajer produksi. “Pas besoknya mau kontrak, eh dibatalin terus Jakarta pas banget lagi awal-awal PSBB, ” ujar Tobing.

Dengan pembatalan proyek tersebut, Tobing dan Adam sulit memperoleh pemasukan. Apalagi lagi keduanya sudah tidak mendapat subsidi dari orangtua masing-masing.

Mencari Peluang Baru dan Membongkar Celengan

Pada situasi seperti sekarang, seperti dialami banyak orang, Tobing dan Adam memutar otak lebih keras untuk mendapat pemasukan agar kebutuhan hidup terpenuhi. Keduanya masih mahasiswa dan meski kegiatan perkuliahan dilakukan secara daring sehingga kampus tidak harus mengeluarkan biaya operasional seperti biasa, mereka mesti tetap membayar uang kuliah setiap semester. 

Seperti pepatah yang mengatakan bahwa kepintaran dipegang oleh si miskin, Tobing maupun Adam memiliki siasat tersendiri mengakali krisis covid-19 yang tengah terjadi. Adam mengupayakan banyak hal dari mulai menjual spare-part motor dan mobil, menjual kamera, membongkar isi celengan untuk membayar uang kuliah, dan menjadi videografer untuk acara pernikahan.  

Ia harus menyiasati pola konsumsi yang pasti berubah. Dalam satu hari ia yang biasanya membeli sebungkus rokok kemudian hanya menjadi setengah bungkus rokok. Ia juga lebih memprioritaskan perawatan kendaraan motornya semisal tangki bensin yang harus selalu terisi penuh. Baginya, kendaran motor itu adalah aset berharga yang bakal mengantar ia untuk mendapat pemasukan dan peluang pekerjaan baru.

“Dengan (krisis Covid-19) ini, urang jadi belajar buat apa-apa gak bergantung sama uang dan lebih mengembangkan potensi diri yang lain,” kata Adam. 

Sementara itu, Tobing mendapatkan beasiswa dari kampusnya dan mengerjakan beberapa video iklan dari klien. Meski sempat agak tersengal-sengal pada bulan Juni dan Juli lalu, tapi keberuntungan masih berada di pihaknya. Ia menjadi manajer produksi untuk proyek syuting pembuat webseries dari klien, perusahaan swasta di Bandung.

“Waktu syuting webseries ini, sempet umpet-umpetan sama polisi karena takut dibubarin. Kebetulan lokasinya agak jauh dari daerah kota (Bandung),” ungkap Tobing.

Tak hanya itu, berkat uang yang ditabung dari berbagai proyek yang pernah dikerjakan, Tobing membangun Karya Asa, perusahaan start-up yanng bergerak di bidang digital marketing seperti copywriting, desain grafis, dan advetorial di kota Bandung. Ia juga membantu teman-temanya yang baru memulai usaha di industri kreatif, sekaligus menjadi perantara klien agar tertarik menggunakan jasa atau barang yang diproduksi teman-temannya. “Gue percaya kalau kita bareng-bareng maju, kita bakal lebih kuat meski dalam keadaan kaya gini,” tambahnya.

Di akhir obrolan kami di salah satu kedai kopi di Jalan Diponegoro, Bandung, keduanya mengeluhkan tak adanya jaring pengaman berupa asuransi kesehatan dan lain-lainnya untuk pekerja di industri film. Mereka membandingkan jam kerja antara di industri film di Indonesia dan di Amerika. Menurut Tobing, di Amerika Serikat para kru, aktor, sutradara dan lain sebagainya hanya melakukan proses syuting selama delapan jam kerja. 

Sementara itu, ekosistem kerja di Indonesia masih amburadul lantaran harus mengejar waktu dan menekan ongkos produksi.  “Nah itu di (industri) film orang bisa cepat mati muda. Penyebabnya karena kurang tidur, kerja dalam tekanan tinggi hampir tiap hari,” ujar Adam. []

Ditulis oleh Rinaldi Fitra Riandi

Leave a Reply